Keterbatasan pengetahuan bukan saja berarti ketiadaan ilmu,
tetapi juga ketidakmampuan dalam memilah, mengamalkan dan menyosialisasikannya.
Terkadang kita tidak mengetahui apa yang kita kehendaki. Kita tidak mampu
membedakan mana yang utama dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang
tidak penting, mana keinginan dan mana keperluan. Kita tidak mampu membedakan
mana kawan yang sebenar-benarnya dan mana pula lawan. Terkadang lawan justri
dijadikan kawan, dan kawan dijadikan lawan. Ada lawan yang benar-benar lawan
dan ada juga yang pada hakikatnya bukan lawan, tetapi karena ulah dan
keterbatasan pengetahuan kita maka mereka kita anggap sebagai lawan dan
penantang.
Dan Allah memberikan hambanya untuk menjadi orang yang :
-
Fujur adalah perbuatan
buruk dan prilaku yang bertentangan dengan syariat. Kebalikan fujur adalah
takwa, yaitu kebenaran dan segala tatanan yang disyariatkan Allah. Tentang
fujur dan takwa ini, dalam al-Quran, Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa.
-
Takwa adalah seseorang beramal ketaatan
pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia
meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan
siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah
selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal
yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman
:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ
مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ
حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya : Tidaklah seorang hamba mendekatkan
diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa
mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih
yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Al Majmu’ Al
Fatawa, 10: 433)

