Keterbatasan ilmu pengetahuan (RESUM ke 2)


Keterbatasan pengetahuan bukan saja berarti ketiadaan ilmu, tetapi juga ketidakmampuan dalam memilah, mengamalkan dan menyosialisasikannya. Terkadang kita tidak mengetahui apa yang kita kehendaki. Kita tidak mampu membedakan mana yang utama dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana keinginan dan mana keperluan. Kita tidak mampu membedakan mana kawan yang sebenar-benarnya dan mana pula lawan. Terkadang lawan justri dijadikan kawan, dan kawan dijadikan lawan. Ada lawan yang benar-benar lawan dan ada juga yang pada hakikatnya bukan lawan, tetapi karena ulah dan keterbatasan pengetahuan kita maka mereka kita anggap sebagai lawan dan penantang.
Dan Allah memberikan hambanya untuk menjadi orang yang :
-        Fujur adalah perbuatan buruk dan prilaku yang bertentangan dengan syariat. Kebalikan fujur adalah takwa, yaitu kebenaran dan segala tatanan yang disyariatkan Allah. Tentang fujur dan takwa ini, dalam al-Quran, Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa.
-          Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya : Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Al Majmu’ Al Fatawa, 10: 433)






Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.