Manusia Sebagai Makhluk Otonom
Otonom
berarti berdiri sendiri atau mandiri. Jadi setiap orang memiliki hak dan
kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri. Ia harus dapat menjadi tuan atas
diri. Berbicara mengenai manusia bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana,
karena manusia banyak memiliki keunikan. Keunikan tersebut dinyatakan sebagai
kodrat manusia. Manusia sulit dipahami dan dimengerti secara menyeluruh tetapi
manusia mempunyai banyak kekuatan-kekuatan spiritual yang mendorong seseorang
mampu bekerja dan mengembangkan pribadinya secara mandiri. Arti otonom adalah
mandiri dalam menentukan kehendaknya, menentukan sendiri setiap perbuatannya
dalam pencapaian kehendaknya.
Allah telah memberikan akal budi yang membuat manusia tahu
apa yang harus dilakukannya dan mengapa harus melakukannya. Dengan kemampuan
akal budinya, manusia mampu membedakan hal baik dan buruk dan membuat keputusan
berdasarkan suara hatinya dan mampu bersikap kritis terhadap berbagai pilihan
hidup. Manusia adalah makhluk hidup, yang mampu memberdayakan akal budinya,
maka manusia mempunyai berbagai kemampuan, yakni mampu berpikir, berkreasi,
berinovasi, memberdayakan kekuatannya sehingga manusia tidak pernah berhenti. Allah memberi kebebasan kepada
manusia. Meskipun kebenaran itu dari Allah, namun Allah tidak pernah memaksa
manusia untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang ingin beriman, maka
imanlah. Siapa yang ingin kafir, maka kafirlah. Pun demikian, Allah
menciptakan manusia menurut fitrah beragama tauhid. Semua bayi yang lahir,
mempunyai kesiapan untuk beragama Islam. Ketika ia besar, ia menjadi kafir atau
memeluk agama selain Islam, maka itu adalah karena didikan dari orang tuanya.
Karena sesungguhnya, Allah tidak pernah
menganiaya hamba-Nya. Jika ia sampai masuk ke neraka, itu tak lain karena ia
sendirilah yang telah menganiaya dirinya sendiri.
Allah berfirman, “Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS Al Insyiqaaq 24)
Allah berfirman, “Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS Al Insyiqaaq 24)
Nikmat Allah sangat banyak dan sangat kita
rasakan sebagai umat manusia. Diantaranya seperti nikmat hidup untuk semua
mahluk hidup di dunia ini dan tanpa terkecuali. Fasilitas hidup di dunia juga
yang sangat kita perlukan seperti halnya oksigen dan air. Oksigen dan air
sebenarnya adalah nikmat yang seutuhnya Allah berikan untuk kita, namun karena
keserakahan manusia, semua hal itu terasa semakin susah kita dapatkan. Layaknya
air bersih yang sebenarnya nikmat dari Allah secara cuma-cuma, menjadi
kebutuhan yang susah didapat bagi beberapa wilayah. Mereka harus berjalan
berkilo-kilo meter jauhnya untuk mendapatkan air bersih dan juga membayar mahal
untuk itu.
Nikmat Allah juga sudah dijelaskan pada Al-Qur’an, yaitu pada
Surat Al-Qashash ayat 56-66 :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ
أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ (٥٦) وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ
أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ
كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٥٧)
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ
لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلا قَلِيلا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ (٥٨) وَمَا كَانَ
رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو
عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلا وَأَهْلُهَا
ظَالِمُونَ (٥٩)
56. [1]Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk
kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang
yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.
57. Dan mereka[2] berkata, "Jika kami mengikuti petunjuk
bersama engkau, niscaya kami akan diusir[3] dari negeri kami.” (Allah
berfirman), “Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram
(tanah suci) yang aman[4], yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari
segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui.
58. Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah
bersenang-senang dalam kehidupannya[5] yang telah Kami binasakan, maka itulah
tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali
sebagian kecil[6]. Dan Kamilah yang mewarisinya[7].”
59. [8]Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum
Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya[9] yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada mereka[10]; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri;
kecuali penduduknya melakukan kezaliman[11].
Adapun juga nikmat yang juga seringkali
dilupakan manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. Disaat kita sehat,
terkadang kita lupa segalanya. Semua terasa berjalan dengan lancar, tanpa
masalah. Juga dengan kesehatan kita itu, kita mengabaikannya dengan pola hidup
tidak sehat dan merasa seolah tindakan kita itu benar. Dan apabila sudah jatuh
sakit, barulah terasa banyak hambatan dan ternyata sehat itu segalanya.
Begitupun dengan waktu senggang, manusia seringkali menjalaninya dengan salah.
Sebenarnya, jika ada waktu senggang yang sebenarnya merupakan nikmat dari
Allah, kita diharapkan mampu mengisi waktu luang tersebut dengan kegiatan
positif. Sebelumnya kita mungkin sangat lelah dengan beribu aktivitas kita,
namun disaat ada waktu senggang? Ya, kita memang terkadang salah tanpa kita
sadari. Seringkali umat manusia malah mengambil kegiatan negatif yang merugikan
dirinya sendiri. Parahnya lagi, terkadang umat manusia seolah merencanakan
hal-hal negatif yang dapat dilakukannya dalam waktu senggang, seperti misalnya
mencuri, membunuh, dan lainnya yang buruk.

