HABLUM
MINALLAH WA HABLUM MINANNAS
Islam memiliki ajaran yang membentangkan dua bentuk hubungan yang
harmonis
1. Tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan Tuhannya dalam
hal ibadah (ubudiyah) atau yang populer dikatakan dengan hablum
minallah
2. Tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan makhluk yang
lainnya dalam wujud amaliyah sosial
Hablum minallah menurut bahasa
berarti hubungan dengan Allah. Namun dalam pengertian syariah makna hablum
minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi,
dan tafsir Ibnu Katsir adalah "Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah
masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka
di dunia dan di akhirat" Sehingga dapat kita pahami bahwa untuk
membangun hubungan kita kepada Allah, kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan
hak-hak Allah, dan apakah hak-hak Allah itu? Hak-hak Allah ialah mentauhidkan
dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain serta menjalankan syariat Allah.
Misalnya: sholat, puasa dan sebagainya.
Namun apakah cukup hanya dengan
hablum minallah saja, sedangkan di sisi yang lain kita mengabaikan hablum
minannas? Tentu tidak cukup, mengingat kita adalah makhluk sosial yang tidak
bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Di dalam Al-Quran juga banyak ayat-ayat
yang menyebutkan tentang perintah mengerjakan sesuatu yang berkaitan
dengan hablum minannallah namun diiringi juga dengan hablum minannas,
antara lain.
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir (19), Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (20), Dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir (21), Kecuali orang-orang yang mengerjakan
shalat (22), Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (23), Dan orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu (24), Bagi orang (miskin) yang meminta
dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)"
Dalam ayat tersebut secara
tegas Allah menyebutkan bahwa keluh kesah dan kikir itu telah menjadi sifat
bawaan manusia sejak dia diciptakan. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta
kita sering berkeluh kesah? Sebaliknya, kalau kita memiliki banyak harta kita
sering lebih cenderung untuk kikir. Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan
kita tersebut dapat kita hindari? Allah menyebutkan paling tidak ada dua jalan,
pertama, mengerjakan sembahyang (hablum minallah) secara kontinu. Kedua,
menyadari bahwa dalam harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk
fakir miskin (hablum minannas).
Selanjutnya Allah menutup ayat di atas dengan kalimat: " Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri". Dengan
maksud agar kita tidak sombong kepada orang tua, karena ada saat dimana kita
juga pasti akan menjadi tua. Jangan sombong kepada anak-anak yatim karena ada
saat kita juga akan menjadi yatim. Jangan sombong kepada orang miskin karena
ada saat kita juga akan menjadi miskin secara tiba-tiba. Jangan sombong kepada
tetangga karena merekalah orang yang pertama memberikan pertolongan kepada kita
saat kita mengalami kesulitan. Jangan sombong kepada teman karena kita sangat
membutuhkannya. Jangan sombong kepada musaffir karena ada saat dimana kitapun
akan menjadi musafir dan jangan sombong kepada pembantu rumah tangga karena
mereka besar bantuannya kepada kita meskipun tidak besar upah yang kita berikan.
Dalam surat Al-Ma'un ayat 1-7
Allah berfirman:
"Tahukah kamu (orang) yang
mendustakan agama? (1), Itulah orang yang menghardik anak yatim(2), Dan
tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (3). Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat (4), (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5),
Orang-orang yang berbuat riya (6), Dan enggan (menolong dengan) barang berguna
(7)"
Dalam
surat tersebut, Allah SWT demikian lugas mengaitkan antara agama dengan
keberpihakan kepada kaum dhuafa. Seseorang dikategorikan mendustakan agama
manakala ia mengabaikan anak yatim dan orang miskin.
Di awal
surat Al-Ma’un tersebut Allah menggunakan pertanyaan, tapi bukan berarti Allah
bertanya karena tidak tahu. Menurut para mufassir hal itu dimaksudkan untuk
menggugah hati pendengarnya agar memberikan perhatian lebih kepada ayat
selanjutnya.
Jadi di
sini Islam mendorong umatnya agar dalam beragama tidak selalu mementingkan
aspek ibadah mahdhoh saja, akan tetapi Islam juga menganjurkan ibadah sosial,
seperti memperhatikan nasib-nasib orang lemah. Bahkan kalau kita cermati 5
rukun Islam itu adalah merupakan gabungan antara habluminallah dan hablum
minannas, gabungan antara hubungan vertikal dan horizontal.
Dimulai
dari mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan pertalian antara seorang
hamba dengan Allah, namun pengakuan dan kesaksian tersebut tidaklah cukup tanpa
terus menerus menjaga hubungan baik dengan Allah, yaitu dengan melaksanakan
shalat sebagai rukun Islam yang kedua. Shalat yang secara simbolis
gerak-geriknya mencerminkan kepasrahan kita kepada Allah. Kemudian ketaatan
tesebut dibuktikan dengan mengerjakan amaliah sosial yaitu zakat sebagai rukun
Islam ke-3. Kemudian dalam rukun Islam yang ke4 yaitu puasa, kita dilarang
makan dan minum sebagai pelajaran bagi kita untuk dapat merasakan bagaimana
rasanya ketika seseorang tidak bisa makan dan minum.
Dalam sebuah hadits qudsi
dikatakan bahwa pada hari kiamat nanti Allah akan berfirman,
"Wahai
anak Adam,…Aku meminta makan kepadamu tapi engkau tidak memberiku makan."
Si hamba bertanya, "wahai Tuhanku….bagaimana mungkin aku member-Mu makan
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?" Allah berfirman,
"tidakkah kau tahu bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu tapi
engkau tiada memberinya makan? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau
memberinya makan, niscaya engkau akan menemukan itu disisi-Ku.
"Wahai
anak Adam,… Aku meminta minum kepadamu tapi engkau tidak member-Ku minum."
si hamba menjawab, "wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku member-Mu minum
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam." Allah berfirman,
"hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu tapi engkau tiada memberinya
minum. Padahal jika engkau memberinya minum niscaya akan kau dapati itu
disisi-Ku".
Hadits
tersebut secara tidak langsung memerintahkan kita untuk peka terhadap fenomena
sosial. Apakah kita sudah memperhatikan orang-orang yang sedang membutuhkan
pertolongan kita baik berupa makanan, minuman, dll ataukah kita termasuk orang
yang terlena dengan gemerlap dunia sehingga melupakan hal itu? Amat banyak
kehidupan orang lain di sekitar kita yang tidak memiliki kehidupan seberuntung
kita. Seburuk apapun kondisi kita saat ini, pasti masih ada saja yang lebih
buruk dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang. Kita lihat sekarang
saudara-saudara kita yang ada di Palestina sana, mereka sedang membutuhkan bantuan
kemanusiaan dari seluruh ummat Islam dunia, tak terkecuali bantuan kita ummat
Islam indonesia. Cukupklah ayat-ayat dan hadits tersebut sebagai penggugah hati
kita untuk peduli terhadap saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan
kita.

